Selasa, 19 Juni 2012

Pertemanan yang Cidera

Kehilangan teman akan selalu menjadi hal menyesakkan.
Apapun ceritanya.

Segudang pertanyaan pun menyesaki kepala.
Pengakuan bersalah tak cukup menjadi jawaban.

Jalinan pertemanan bertahun-tahun terhapus oleh satu peristiwa dalam guliran detak jam.
Tak akan pernah bisa dirasionalkan, meski segala penjelasan bisa dinyatakan.

Lewat semesta, permintaan maaf kutitipkan.
Semoga keajaiban semesta masih bekerja dan memperbaiki pertemanan yang cidera.

Dengan bahasa yang agak beriman, pesan klasik yang satu ini cukup mengena.
Hati-hati dengan kata-kata, karena bisa jadi ada malaikat atau sebaliknya iblis mewujudkannya.

Untukmu kawan, kau tetap selalu di hatiku, meski kau hapus aku dari duniamu.
Semua peristiwa yang bertumpuk jauh sebelum satu cidera itu, mengabadi sebagai kebaikan yang kujaga.

-somewhere out there, 20 Juni 2012, 01.21-

Senin, 27 Februari 2012

Masih Ada Cerita Baik


Cerita bodohku hari ini.

Ketinggalan pesawat.

Tapi, poinnya bukan itu. Justru di tengah hiruk pikuk ‘mengejar’ liputan kali ini, sekali lagi aku bertemu sisi ‘kebaikan’ hati yang lagi-lagi menyelip di tengah segala rupa wajah manusia.

Aku terlambat, salahku. Gara-gara salah manajemen waktu, harus menyempatkan mengantarkan amanat keluarga ke seluruh keluarga besar yang menyebar di jakarta, di sela segala jadwal kerjaan harian. Yang itu pun tidak terburu. Lagi-lagi karena manajemen waktu dan ‘manic depresi’ yg ga penting, membuat semua penjadwalan berantakan.

Akhirnya diputuskan meninggalkan motor di kantor, sekitar dua jam sebelum jadwal pesawat take off. Sudah dengan ngebut ga penting, tentu saja, dari kalisari cijantung.

Ketemu ‘dia’ yang baru cari makan siang sepertinya. Merepoti ‘dia’ menyimpankan ‘barang keluarga’ yang tak keburu dikirim. Pakai menyuruh2 satpam kantor mencarikan taksi, walaupun gagal.

Singkat cerita dapat taksi dari pejavil.

Sopirnya masih muda, ganteng, cerewet. Tp sudah punya istri. Yah dia memberikan tausiyah soal niat menikah. Hahahaha.. Ya anggap aja meredakan ketegangan mengejar pesawat, di tengah macet mampang yang membutuhkan banyak istighfar untuk sabar.

Urusan berikutnya : check in.

Waktu tersisa tinggal sejam lewat beberapa menit. Apesnya, pulsa telepon abis. Wkwkwk.. Tinggal sisa IM2, dg battere mepet.. Jurus terakhir, twitter, ym, imel. Lagi-lagi ‘dia’ kena. Hehehe.. Thx a lot kawan. Data paspor pun dikirim untuk bisa chek-in jarak jauh. Maaf buat si aa’ yg menguruskan check in di bandara.. waduh, si aa’.. hahaha.. bisa jd gosip baru neh.. :p .. hehe..

Ok, sudah bisa check-in. Haaaahh.. ambil nafas...

Tapiiii..

Ini kok sopir ga lihai ya..

Dia sih mengaku itu sudah ngebut. Tapi spedometer cuma sesekali sampai angka seratus. Mau kuminta gantiin nyopir, ga sopan juga rasanya. Hummm.. Pengalaman aku dulu pernah mengejar pesawat dengan waktu yg lebih mepet, dengan kemacetan lebih parah, masih bisa sampai 5 menit sebelum penerbangan. Total waktu tempuh saat itu, kurang dari sejam. Wkwkwkwk.. *sarap pisan waktu itu*.

Dan, benar-benar terlambat.

Langkah pertama, cari pulsa. Bodohku, di tengah keuangan menipis, aku beli pulsa 50 ribu. Pikirku, aku harus banyak telp. Bukan buat apa2. Tapi, karena aku memang ga punya uang. Hehehe.. Ada dua atm yang masih nyelip di dompet. Yang satu sudah mati, yang satu sekarat karena tak ada isinya.

Masuk loket check in garuda, berusaha cari next flight. ‘Bentar ya. Penerbangan berikutnya penuh. Kalaupun ada, kena charge sesuai kelas ekonomi,’ kata pak dicki si petugas check in. Waks..Tengok tiket yg angus, harganya di atas 1 juta.. waduh...uang di tangan kira-kira tinggal cepek, ga ada atm.

Maka, aksi telp pun dimulai. Ke para pihak terkait. Apakah tetap harus berangkat, apakah bisa diklaim ke kantor, dan yang pasti : minta dikirimi duit. Itu pun belum ada kepastian dapat kursi atau enggak. Tiga empat kali bolak-balik ke loket, dapat gelengan saja dari pak dicki. Hehe..

Orang garuda pun ditelp lewat bantuan kantor. *xixi..* .. Ga ngaruh, tetap harus nunggu. Ok.. sepuluh menit kemudian baru dipanggil. ‘Yak silahkan ke kasir. Kena charge. Biayanya berapa, di kasir saja,’ kata pak dicki yang sudah ga bisa senyum melihatku.

Gontai ke kasir. ‘Seratus tiga puluh lima ribu, bu,’ kata mbak kasir. Waks.. cilaka... keluarkan semua isi dompet dan saku.. satu, dua, .. ups.. Cuma ada 115, dan beberapa lembar ribuan... waduh.. aksi telepon pun dilakukan lagi.. transferin gw duong.. di tengah tatapan aneh mbak kasir.. bahkan sampai si mbak nyeletuk, ‘Cuma seratus tiga puluh lima lho,’ dengan pandangan prihatinnya... wahahaha.. ga tau dia, kalau sekarang ada duit segitu pun setelah menjual aset kepada kawan.. wkwkwkkw..... ‘Bu, sudah jam segini lho,’ kata mbak kasir ga sabar dengan pandangan anehnya. Hehe..

Beruntung, sebelumnya -di saat terakhir menanti pak dicki memproses tiketku itu - ada satu sosok lelaki berbaju safari. Sebut saja namanya pak hendri. Sumpah, itu nama yang dia sebut. Wahahaha... Dari mula tahu aku ketinggalan pesawat, dia sudah membagi-bagi tips untuk besok2 lagi kalau mengejar jadwal pesawat. Dari jurus belok taksi, berburu ojek, dan tanpa bagasi. Dia pula – justru – yang bilang charge yang harus kubayar ga akan mahal, ga sampai di atas 500 ribu. *dulu aku pernah salah lihat tanggal tiket, dan harus bayar lebih dari separo harga soalnya.. masih trauma*.

Nah, pas grogi dipandangi aneh mbak kasir, pak hendri jg bayar-bayar tiket yang diurusnya gitu deh. Maka, jurus sok bisa dipercaya dipakai. ‘Pak, kalau saya pinjam uangnya dulu, bapak percaya tidak sama saya ?’. hahahahah.. parah... waktu ditanya kurang berapa, kujawab sambil tunjukin recehanku, ‘kurang 20 ribu pak.’ Wkwkwkkww... baru sekali ini lho, penampilanku cocok dg kekayaan. Dekil dan ga punya uang. Hahahaha...

Dan, alhamdulillah, dia sodorkan selembar ratusan ribu. Sekalian buat bayar apa itu yg 40 ribu itu, katanya. Hahaha... Dia juga malah yg nyuruh cepat-cepat dibayar, karena dari loket seberang pak dicki jg sudah meneriakiku untuk cepat-cepat balik lagi ambil boarding pass. Sambil lari, kuminta nomor telepon pak hendri, cuma bisa teriak terima kasih dan janji akan kutelp.

Whuaaahhhh... setelah di bis shuttle menuju pesawat, baru sadar bahwa aku beruntung. Di bandara bo’.. garuda pula pesawatnya, ada gw yg ga punya duit buat bayar 135 ribu dan ada orang yang mau bayarin padahal ga kenal.. *sepertinya mukaku memang sangat memelas saat itu*.

Beruntung juga, banyak teman-teman dengan segala rupa bantuannya, beruntun kudapat dalam rentetan beberapa jam ini saja. Mungkin sepele, tapi sebagai sebuah jalinan cerita, kl satu dari semua bantuan itu tak kudapat, jalan ceritanya pasti juga beda lagi.

Terima kasih untuk teman-teman kantor yang sdh berusaha transfer meskipun gagal.. juga korlip yang mencarikan rekening yg bisa transfer ke atm-ku.. walaupun mmg ga kekirim akhirnya.. toh jg kuminta cancel setelah ada ‘dana pak hendri’..

Dan ketika sudah duduk di dalam pesawat, baru sadar juga, bahwa di tengah hiruk pikuk soal pesawat itu ada beberapa kalimat aneh di sela telepon aku minta ditransfer dan juga sms aneh. ‘palupi, selamat ya. Bla bla bla..’ .. dari para sejawat di kantor .. belum jelas bagaimana cerita dan detilnya, tapi kira-kira aku paham lah apa yg terjadi..

terima kasih, kawan-kawan.. amanah baru.. belum tahu juga seperti apa.. belum tahu juga apakah akan diterima.. hehe.. tapi tetap terima kasih, kawan-kawan.. kalian menghangatkan hatiku di hari yang hiruk pikuk ini.. :D ..

Ada juga telepon yang menanyakan keberadaan diriku, sudah sekian lama menghilang katanya. Undangan ngupi2 jalanan pun disampaikan. Siap perintah, kawan ! ..

Ok, di atas pesawat yang bergoncang-goncang ini, sungguh aku bersyukur. Alhamdulillah, untuk segalanya. Selalu ada sisi terang dalam setiap peristiwa. Apapun alasan atau motifnya, kebaikan masih tetap ada di mana-mana. Hanya kita mmg suka ga sabar dan memaksa. :D

Di langit pulau jawa, 8 Desember 2010, 18.55 wib

Tentang Tak Genap Empat Bulan


Tak genap empat bulan aku di ruangan ini, di kursi ini, di sudut ini.

Tapi tak kupungkiri, ini seperti kembali ke ‘rumah’ yang sempat hilang.


Tak genap empat bulan, hari-hari penuh ‘pertengkaran’ di sini.

Tapi juga tak genap empat bulan untuk segala canda, tawa, keringat, bahkan air mata dibagi bersama.

Hehehe.. Sedikit sentimentil memang.

Tapi memang inilah salah satu tim hebat yang pernah kupunya, dengan segala lebih dan kurangnya.

Pasti, ini bukan tim sempurna.

Tapi ‘rata-rata air’ jadi slogan penyeimbang beragam ‘kecepatan’ dari empat orang yang memang berbeda.

Thx to kang one, kang osa, mail.

Untuk tak genap empat bulan yang kita jalani bersama.

Mungkin aku bukan orang yang akan kalian rindukan.

Tapi pastikan bahwa kalian kurindukan.

Juga seluruh kawan-kawan redaksi lantai empat, pun kawan-kawan reporter di lapangan.

Maaf, jika tak genap empat bulan-ku di sini, bukanlah tak genap empat bulan yang dikenang dengan indah.

Tapi yakinlah, niatku hanya ingin bersama-sama menjadi dan mewujudkan yang terbaik bersama kalian.

Mungkin terlalu naif dan melankolis, tapi buatku itulah senyatanya.

Tak lupa, untuk seluruh keluarga warung buncit 37 Jakarta.

Dari satpam, OB, resepsionis, sekred, perpus, produksi, foto, fax, dan bagian lain.

Mohon maaf untuk segala salah yang kubuat selama enam tahun berinteraksi di sini.

Termasuk tak genap empat bulan terakhir.

Buatku, mungkin tak akan ada lagi insiden terbangun pagi hari karena OB sudah datang membersihkan ruangan.

Buat kalian, mungkin sudah tak ada lagi orang menyebalkan yang terlalu sering menginap di kantor.

Terima kasih untuk segalanya.

Apapun itu, pasti ada hikmahnya.

-- lantai 3 WB 37, 26 Maret 2011, Jelang Tengah Malam --

Si Pembaca Serius Itu..


Setiap malam, menjelang pergantian hari..

“Assalaamualaikum..,” bisikku pelan sembari membuka pintu kamar kos. Aroma lemon pengharum pasaran, menyeruak hidung saat pintu terbuka pelan. Beringsut kumasuki ruang dengan dominasi warna hijau ini, menyenggol gantungan pengharum tanpa menjatuhkannya, menyelipkan tangan ke balik lemari, menekan saklar lampu.

Ritual berikutnya, kutaruh ransel di samping meja, copot kaca mata dan meletakkannya di meja, lepas jaket dan menyampirkannya ke gantungan di pintu, ganti kostum. “Fhewwww…,” kutaruh badanku di hamparan karpet. Menghirup nafas panjang, mengeluarkan segala udara yang seharian dihirup dari jalanan.

Pelan, kepalaku berpaling ke meja di jangkauan tangan. “Hmm..,” mataku memilah judul buku apa yang mau menemaniku malam ini. Ah, sesaat aku tertegun. “Sedang membaca apa kamu di sana, ‘pembaca serius’-ku ? Atau sudah terlelapkah ?”

Bertahun-tahun sebelumnya..

“Apapun, tak usah kau berikan lagi padaku. Kecuali buku, bolehlah,’’ ujarmu sembari berlalu. Mengakhiri segala perdebatan, pertengkaran, kesalahpahaman. Menutup semua peluang pembicaraan, telepon, maupun sms. “Just leave me alone.”

Kembali ke setiap malam..

Ah, sudah berapa lama tak lagi kukirimkan buku padamu. Rentang waktu yang sama, tak lagi kubeli buku lebih dari satu untuk setiap judul. Tak lagi ku-copy buku-buku yang sudah tak ada lagi di pasaran. Cuma ada satu buku untuk setiap judul, dan itu hanya menyesaki rak bukuku. Tak ada lagi namamu di kemasan paket yang tergopoh-gopoh kusempatkan menitipkannya ke kantor pos. Tak ada lagi ritual mencari satu lagi edisi buku yang baru saja usai dibaca dan kurasa layak kubagikan padamu. Yang ada tinggal mematikan hati yang disusupi rindu mengirimkan buku.

Setahun lalu..

“Oh, jadi buku-buku itu memang tak pernah dibaca ya ? Semua terkait aku, tak berguna ?” ujarku sepedas-pedasnya di e-mail, sms, ym. Semua yang tak akan berjawab, kutahu. Dan sejak saat itu, mati hasratku mengiriminya buku. Sebagus apapun buku itu.

Malam-malam ini..

Mungkin kau memang sudah bukan si ‘pembaca serius’ yang dulu kupikir kukenal. Yang berbinar menerima buku dariku di satu waktu. Dulu.

Masih tersisa ingatan tentang rasa sesak, saat kutahu buku yang kuberikan kau serahkan begitu saja ke orang. Ketika buku yang dipuji-puji orang lain, ternyata adalah buku yang dulu kuberikan padamu, yang kau sebut sebagai ‘biasa saja’.

Masih ada sedikit ingatan tentang buku yang sudah tak lagi dicetak, yang dengan enteng kau bilang tak lagi kau temukan di rumahmu saat hendak kupinjam. Hanya karena kau sedang marah saat kuantarkan buku itu.

Tapi ya sudahlah. Ini soal pilihan dan selera. Meski sesekali otomatis otakku merekomendasikan buku bagus yang baru usai kubaca untuk kukirim ke kamu, kukatakan kepada diriku sendiri untuk bertahan. Bukan untuk mendendam. Hanya semoga yang terbaik untukmu.

*sudut ruangan, 13 Mei 2011*

nb : lama ga ngayal ngarang tulisan fiksi, ternyata riweuh juga.. garing tralala rasanya.. punten yak.. :$

Tuhan, Ngobrol Bentar Yuk..

Tuhan, aku tidak pernah tahu pasti mengapa hari ini aku harus begini, besok begitu, atau kemarin bagaimana lagi. Aku tak pernah tahu rahasia-Mu. Terlalu absurd untuk sel kelabu di dalam batok kepalaku.

Tapi, Tuhan, biarkan aku berterima kasih pada-Mu. Untuk semua hal membingungkan yang kujalani saja setiap saat. Untuk setiap pertemuan dan perpisahan yang kadang-kadang benar-benar gagal kupahami sebab dan maksudnya.

Kurasa aku terlalu yakin bahwa Kau tak akan menciptakan segala sesuatu untuk sia-sia. Aku dan sel kelabuku saja yang tak sanggup seketika mencerna.

Kadang-kadang, rasanya memang terlalu menyesakkan dan seolah berjalan ke arah kebuntuan. Tapi janji-Mu bukan, bahwa siapa yang berpegang pada buhul-Mu tak akan merugi. Janjimu juga bukan, bahwa segala kebaikan dan keburukan, sekecil apapun, tak akan terlewatkan oleh kuasa-Mu.

Jadi, Tuhan, maafkan aku kalau dalam ritme tak tentu aku kerap menjauh dan menafikan-Mu. Menganggap-Mu tak akan tahu busuknya bisik hatiku, piciknya pikiranku, atau buruknya perbuatanku. Kadang-kadang menjadi bengal itu menyenangkan, Tuhan. Meskipun sesudahnya juga merutuki diri sendiri.

Maka, ketika aku tak juga paham mengapa saat ini aku ada di mana, seperti halnya kemarin dan esok aku ada di mana, tolonglah Tuhan beri aku sedikit kesabaran untuk tak berbisik-bisik busuk dengan hatiku. Untuk tak membiarkan otakku membuat sejuta alternatif pemahaman. Tolong, Tuhan, biarkan aku seperti biasanya, yang mengikuti dan menjalani saja semuanya. Menelan semuanya dulu tanpa harus berbanyak buruk pikir dan prasangka.

Kalaupun semua yang kulakukan disalahtafsirkan sesama makhluk-Mu, Tuhan, tolong pastikan aku tak ambil pusing selama itu bukan penafsiran-Mu. Tolong banget deh, lapangkan saja dada dan kepalaku. Isi saja dengan hal-hal yang kira-kira berguna. Setidaknya untuk tak membuatku sia-sia jadi manusia. Itu saja kok.

Biarkan laiknya angin sepoi-sepoi, semua hal dalam kehidupan ini membelai tubuhku tanpa perlu menghempaskan. Biarkan sedikit hawa segar atau sebaliknya sengatan panas yang terbawa, memberi nuansa untuk hidupku.Selebihnya, beri saja hal-hal membingungkan dan yang tak sepenuhnya kupahami itu untuk kukerjakan seperti biasanya, yang semoga ada gunanya.

Sudah ya, Tuhan, itu saja yang ingin kubicarakan sekarang. Tidak perlu orkestra lengkap untuk melantunkan nada dalam hidupku. Cukup petikan dawai gitar atau denting piano, atau gabungan dua tiga alat musik kehidupan saja. Tak perlu juga yang menggelegar. Yang sederhana dan cukup saja.

Ah, sudah kepanjangan. Kau lebih tahu yang pas untukku, tanpa perlu aku mendetilkannya bukan. Tentu, aku tetap akan meminta beberapa hal remeh temeh, mumpung Kau selalu perintahkan untuk hanya meminta pada-Mu. Tapi cukuplah yang sederhana dan secukupnya saja yang Kau beri, seperti yang Kau tahu dengan lebih pasti yang kubutuhkan.

Salaam..

>> pojokan 'asrama putri' Riau 126 Bandung, 21 Juni 2011, 22.15 WIB

Minggu, 26 Februari 2012

Aku Mengerti

Teruntuk kau yg datang lalu pergi dengan menyimpan beban di kepala dan hati.. Teruntuk kau yg berpikir telah melukai hati maupun yg merasa tersakiti.. Teruntuk kau yg sesungguhnya punya mimpi dan janji sehati..

Salah, kalau kau bilang dan pikir sikap keras dan kasarmu adalah satu2nya cara untuk membuatku paham dan mengerti.. Krn kebaikan hatimu yg membuatku mengerti..

Bahwa aku bodoh dan keras kepala, bukan berarti aku tak mengerti.. Bahwa aku temperamental, juga bukan berarti aku tak mengerti..

Semua butuh proses untuk menampakkan hasil, seperti yg sll kau bilang, pun berlaku untukku.. Bukan pula berarti ada pembenaran untuk kebodohan, kekeraskepalaan, dan temperamentalku..

Suatu saat semoga kau tahu, bahwa kebaikan hatimu saat itulah yg membangunkanku dari mimpi.. Mimpi akan diselamatkan, sekaligus mimpi buruk tak akan pernah terselamatkan.. Krn sejatinya, kesempatan ada.. Ia hanya mensyaratkan keteguhan hati, untuk bangkit dan memperbaiki diri..

Kau bukan terlahir sebagai pahlawan bagiku.. Kau ada sebagai dirimu apa adanya.. Yg kebetulan saja membuat org di sekitarmu bermimpi dan yakin merasa bisa melakukan banyak hal.. Tp kau jg org yg tak akan menoleransi org2 yg tak mandiri..

Bahkan, demi mewujudkan impian kau bisa meninggalkan siapapun yg tak berkemampuan.. Hanya bila semua org bersama2 menjadi dirinya sdr, berjuang sekuat tenaga mjd yg terbaik mewujudkan impiannya, barulah kau akan ada bersama2 mereka..

Aku mengerti semua itu.. Denganmu atau tanpamu, aku akan tetap mengerti.. Dengan atau tanpa kau.. Dan mengertiku adalah langkahku, hari ini dan esok hari.. Janji hati, dari kebaikanmu yg membuatku mengerti..

Mgkn saja kita berjalan bersama-sama, tp tak berarti perjalanan kita sama.. Bukan berarti kita yg sdg berjalan sendiri-sendiri, benar-benar memiliki perjalanan sendiri.. Terikat dalam semesta yg kadang tak bisa seketika dimengerti, setiap kita tercipta beda dan teristimewa, untuk menjaga semesta tetap ada, sebisa kita..

Selamat jalan, kawan.. Lanjutkan saja perjalanan, entah mengubahmu atau membekukan bahkan.. Mantapkan niat, teguhkan hati, langkahkan kaki.. Dalam riang maupun sunyi..

-depok, 20 februari 2012-

Rabu, 01 September 2010

''Ilmu Cuek, Mau ?'' -- Tentang Berpikir Merdeka

Mari bercerita tentang keseharian kerja saya. Mungkin juga rasa yang sama di keseharian kerja Anda.

Di satu atau beberapa masa, pasti kita pernah bekerja dengan orang yang menurut kita bukan kelasnya jadi atasan kita. Jangankan atasan, mungkin juga partner kita, bahkan junior kita.

Tapi, apakah cukup berhenti dengan menggerutu, mengecam, dan mengeluhkan keadaan ? Lalu menyerah dalam keluh kesah ?

Hohoho..

Beberapa waktu lalu, ada dialog menarik di tengahkekalutan saya yang sedang merasa mentok menulis dan berkarya.

Yah, kalau sedang cupet, maka menyalahkan keadaan dan orang lain adalah hal paling gampang dan biasa. Apalagi, kalau terasa dan terukur, dengan kualitas kerja kita yang sama ternyata hasil yang didapat menjadi berbeda setelah melalui tangan rekan kita.

Terjadilah dialog ini. Dengan parafrase ya. *piss..*

‘’Duh, saya kok mentok ya dengan pola begini. Belum juga nyaman. Semoga saya yang bermasalah,’’ kata saya. Oleh seorang senior, dijawabnya, ‘’Sudah, ikuti sajalah dulu.’’

Saya pun menjawab, saya berusaha keras untuk mengikuti sistem yang berjalan dengan sumber daya yang ada. ‘’Latihan sabar kali ya. Selalu ada sisi terang di setiap peristiwa,’’ tambah saya.

Dengan bercanda, saya minta si senior berbagi ilmu sabar. Tak dinyana, jawabannya beda. ‘’Ilmu cuek mau ?’’ jawab dia.

Saya tanya balik dong, lebih berat mana ilmu sabar dan ilmu cuek itu. Terutama, kata saya, mana yang lebih tidak menggerogoti hati dan otak.

‘’Berat ilmu sabar dong,’’ jawab si senior. Tidak kalah tengil, dia tambahkan, bahwa karena ilmu sabar lebih berat dari ilmu cuek maka dia juga tidak belajar ilmu sabar itu.

‘’Dan sampai sekarang saya tetap tidak sabaran,’’ ungkap si senior. Tapi, buru-buru dia tambahkan, bukannya hidup ringan tanpa tantangan juga tidak ada enaknya ?

Hehe.. Tidak paham saya. Ini nyindir atau bagaimana ya ? Haha.. Lanjut bertanya saja. ‘’Jadi, ilmu cuek itu start-nya dari mana ? Beda dengan tidak peduli bukan ?’’ tanya saya bertubi-tubi.

Saya pertanyakan juga apakah maksud dia dengan ilmu cuek itu artinya semua hal di luar diri sendiri ditepiskan dulu, yang penting membangun jalan dan kapasitas diri sendiri terlebih dahulu. ‘’Tipis ya bedanya dengan egois ?’’ tambah tanya saya.

Senior menjawab, benchmarking dari kinerja adalah diri sendiri. ‘’Jadi tidak gampang tertiup angin. Tapi jangan berhenti,’’ kata dia.

Dari situ, lanjutnya, kita bisa belajar menghargai orang lain. ‘’Kalau ilmunya lengkap, insya Allah tidak akan mentok pada egoisme,’’ tegas dia sembari menambahkan benar-benar tidak ada ilmu sabarnya di situ.

Wah, saya langsung protes. Benar, benchmarking kinerja adalah diri sendiri. Tapi bagaimana ketika ada unsur orang lain yang ikut berperan dalam menghasilkan output kerja.

‘’Di mana menempatkan ilmu cuek dalam situasi begitu ?’’ kejar saya. Apalagi dengan berbagai perbandingan, bahan dasar yang sama bisa memberikan hasil jauh berbeda ketika diolah oleh orang yang berbeda di luar kita.

‘’Lho, mana bisa benchmarking-nya dipotong dari luar. Ini kan soal pikiran yang merdeka,’’ kecam dia. Kalau dengan benchmark diri sendiri masih bisa terpatahkan, menurut dia berarti ada yang belum benar di dalam proses internal diri kita sendiri.

‘’Kalau kamu masih membanding-bandingkan pengolahan menuju hasil kerja itu dan menyebut nama-nama itu, berarti kamu belum merdeka,’’ pungkas dia mengakhiri percakapan yang hingga saat ini kutuliskan belum ada lanjutan lagi. Haha.. sama-sama keras nih orang..

= = = =

Terus terang, saat itu saya tak puas. Lah, itu mah prinsip saya dari zaman saya mulai kenal yang namanya kompetisi dan kehidupan sosial. Mau kondisi dunia seperti apa, yang kita dapat adalah apa yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh. *eh, di luar soal kuasa tuhan dan benang merah antar manusia yang kerap kita sebut kebetulan ya.. hehe.. *

Aturan boleh bicara apa saja soal standard kinerja. Faktor benefit apalagi profit dari setiap usaha, selalu menjadi godaan dalam penentuan benchmarking. Tapi selama kita yang memegang kemudi kepuasan kinerja dengan standard rasa kita, semua faktor luar itu bukan lagi yang utama. KSO alias kerja sesuai ongkos, dengan sendirinya tertepis. Juga kerja berdasarkan perintah semata. Yang ada adalah merasa kinerja saat ini harusnya bisa lebih bagus, rasanya belajar juga masih selalu kurang.

Hehe..

Lalu ?

Tarik nafas panjang, lepaskan semua beban, tenangkan pikiran, makan yang banyak, lalu tidur. Hehehe.. rangkaian kontemplasi yang menyenangkan.

Bangun pagi, saya baca lagi rangkaian percakapan panjang melalui layanan pesan pendek itu.

Hmmmm...

Lalu, saya tengok pekerjaan saya di masa-masa saya mengedepankan ketidakpuasan dan mengeluhkan keadaan..

Hmmmm...

Saya bandingkan dong dengan daftar kerja saya ketika saya sedang semangat dan mood baik..

Hmmm...

Diingat-ingat juga, rasanya kerja pas lagi ngrasa hebat gitu..

Hmmm...

Baiklah, sepertinya memang saya harus kembali berpikir merdeka.

Baca lagi ketentuan standard operational procedure kerja..

Dibangun image di kepala, sebenarnya posisi saya bekerja itu bagaimana dan apa yang diharapkan dari posisi saya itu.

Ok, Bismillah, stater motor, saya bekerja dengan niat ibadah..

Bahwa saya menulis bukan untuk menyesatkan atau menyenangkan orang..

Bahwa ada standard baku penulisan, apalagi jurnalistik..

Bahwa saya bekerja bukan sekedar mengejar upah..

Baiklah, tepis semua rasa malas dan enggan bertemu orang-orang yang tidak menyenangkan atau orang-orang yang tidak memuaskan kita..

Ah, mereka juga sama-sama manusia yang juga punya proses dalam kehidupannya..

Singkirkan yang tak perlu dari kepala..

Fokus..

Konsentrasi..

Ringankan hati..

Buang hal-hal yang bisa mengontaminasi..

Satu lagi, tebarkan kebaikan..

Dari niat baik, kata-kata baik, sampai perbuatan baik..

Tapi jangan sok baik yang tidak peka.. haha..

Dan ?

Seolah-olah dunia berubah dengan sendirinya.

Semua yang sebelumnya membuat kita serasa bisa membara dalam amarah, berbalik jadi bahan pemicu kita tertawa.

Jadi, santai sajalah..

Teruslah berkarya..

Tidak usah terlalu memikirkan mereka yang berhenti dalam keluh kesah..

Kuncinya ada pada kata ‘bergerak’..

Teruslah bergerak menebar kebaikan..

insyaAllah semua juga akan berbalik menjadi baik..

selama masih ada orang baik yang tak menyerah, kebaikan masih akan selalu punya tempat..

yakin sajalah..

= = = =

hehehe.. lagi kambuh ga jelas di lokananta.. :D

masih terus berlatih keluar dari dunia keluh kesah..

28 mei 2010, saat senja..

Selasa, 03 Agustus 2010

Ketika Gaji Hanya Seribuan Rupiah

dimuat di Republika, 6 Mei 2010

Palupi Annisa Auliani

Berapakah gaji Anda sekarang dalam denominasi rupiah? Katakanlah Rp 1 juta per bulan. Pernahkan Anda bayangkan, gaji Anda itu 'berubah' menjadi seribu rupiah, tetapi dengan nilai yang sama? Jangan tertawa atau panik. Ini salah satu wacana yang sedang dikaji Bank Indonesia (BI) sebagai langkah penyederhanaan penulisan mata uang.

Ya, wacana itu bernama redenominasi. Dengan langkah ini nilai mata uang tidak berubah. Hanya penulisan nominalnya disederhanakan. Salah satu kemungkinannya adalah dengan menghilangkan tiga angka nol terakhir dari nominal mata uang saat ini. Apa sebabnya? Uang rupiah saat ini tercatat mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia yaitu Rp 100 ribu. Terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500 ribu dong.

Namun tak bisa dimungkiri, wacana ini bisa jadi akan mengusik kisah kelam //sanering// alias pemotongan nilai mata uang yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1952, 1959, dan 1966. Pada tahun 1952 yang lebih dikenal dengan gunting Syafruddin, mata uang keluaran NICA (Belanda) dibelah dua dan hanya sebelah kiri yang berlaku dengan nilai setengahnya.

Tahun 1959, sebulan setelah Dekrit Presiden, juga dilakukan pemotongan nilai uang setengahnya. Tahun 1966 ketika inflasi sangat tinggi, uang seribu perak dipotong menjadi tinggal seperak. Ketika itu harga rokok kretek yang semula Rp 10 ribu sempat menjadi Rp 10. Namun situasi ekonomi yang masih kacau membuat harga barang kembali melonjak gila-gilaan, terutama bahan pokok seperti beras yang masih banyak diimpor.

''Redenominasi berbeda dengan sanering. Ini nilainya tidak berubah, hanya penulisannya disederhanakan,'' kata Kepala Biro Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Iskandar Simorangkir, Selasa (4/5). Menurutnya, saat ini sudah banyak pertokoan besar yang juga sudah mempraktikkan 'redenominasi' dalam pelabelan harga.

Untuk menyederhanakan perbedaan redenominasi dengan sanering, Iskandar memberikan contoh harga beras. Misalnya, harga beras satu kilogram Rp 5.000. Dengan redenominasi menghilangkan tiga digit nol, maka harga beras menjadi Rp 5. Harga beras tetap, hanya nominalnya disederhanakan. Daya beli uang yang terkena redenominasi pun tetap. Uang Rp 5 tetap bisa membeli satu kilogram beras.

Sedangkan jika sanering yang berlaku, harga beras yang semula Rp 5.000 itu tidak serta merta ikut menjadi Rp 5. Bisa jadi harga beras tetap Rp 5.000 atau Rp 50. ''Dengan sanering yang berubah adalah nilai uangnya, bukan penulisan nominalnya. Ini yang merugikan rakyat,'' kata Iskandar.

Praktik redenominasi sudah ada contoh gagal dan sukses. Zimbabwe adalah contoh gagal, karena redenominasi justru memicu inflasi ribuan persen. Pemotongan enam digit nominal mata uang tak diikuti dengan penyesuaian harga berdasarkan nominal baru.

''Jadi harga barang dari sejuta bukan menjadi satu, tapi menjadi seribu. Ini yang memicu inflasi besar-besaran di Zimbabwe,'' kata Iskandar. Kasus di Zimbabwe sebenarnya adalah redenominasi tetapi dalam praktiknya adalah sanering. ''Ulah pedagang juga,'' kata dia.

Namun ekonomi Zimbabwe memang tidak stabil karena sebelumnya pemerintah secara sembarangan mencetak uang tanpa mempertimbangkan faktor produksi barang dan jasa. Banyak pihak juga memilih menggunakan berbagai mata uang asing. Akibatnya hiperinflasi. Demominasi mata uang mengalami peningkatan, barisan angka nol pada mata uang semakin banyak.

Bulan Juli 2008 Bank Sentral Zimbabwe menerbitkan mata uang senilai 100 miliar dolar Zimbabwe setelah inflasi mencapai dua juta persen. Padahal tiga bulan sebelumnya baru dicetak mata uang 50 juta dolar Zimbabwe. Menurut //Reuters//, ketika itu 100 miliar dolar Zimbabwe hanya bisa membeli tiga butir telur.

Karena lonjakan inflasi semakin menggila, pada Januari 2009, bank sentral negeri Afrika itu kembali mencetak rekor dengan menerbitkan mata uang berdenominasi terbesar sepanjang sejarah manusia, 100 triliun dolar. Nilainya di pasar gelap hanya setimpal dengan 33 dolar AS. Baru pada Agustus 2008 dilakukan pemangkasan 10 digit angka nol. Uang 10 miliar dolar menjadi 1 dolar.

Februari 2009, bank sentral kembali melakukan redenominasi memangkas 12 digit angka nol. Mata uang 1 triliun dolar tinggal menjadi 1 dolar Zimbabwe. Pecahan mata uang terbesar hanya 500 dolar Zimbabwe.

Sementara Rumania menjadi contoh sukses redenominasi yang tak menimbulkan gejolak pasar. Negara ini memotong empat digit angka nol. Kuncinya, sebelum pemberlakuan redenominasi Pemerintah sudah menggiatkan sosialisasi tentang penulisan nominal uang lama dan baru. Sanksinya juga tegas bagi mereka yang bermain-main dengan redenominasi, terutama para pedagang.

Turki juga sukses menerapkan redenominasi dengan menghilangkan enam angka nol. ''Persiapan Turki sudah dilakukan sejak 1994,'' kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah yang baru saja menyambangi negara tersebut.

Ketika Republika mengunjungi Istambul 2005 lalu, mata uang lira baru dipakai bersama-sama dengan lira lama. Saat menukar uang di //money changer//, lira yang diberikan juga campuran antara yang lama dan baru. Keduanya berlaku sebagai alat tukar yang sah.

Harga barang di toko juga masih ditulis dengan dua nominal berbeda. Daftar menu makanan dan minuman misalnya, kita akan terkaget-kaget dengan harga minuman jus 4.000.000 lira. Namun kalau kita baca daftar harga di sisi yang lainnya tertulis harga dengan nilai nominal baru yakni 4 lira.

Menurut Difi, keinginan Turki untuk masuk ke Uni Eropa menjadi salah satu faktor kesiapan negara itu melakukan redenominasi. Sementara kebijakan fiskal ketat dan defisit anggaran juga tak lebih dari dua persen produk domestik bruto.

Situasi ekonomi Indonesia, kata Difi, sebenarnya sudah cukup kondusif untuk redenominasi. Inflasi, stabilitas ekonomi, dan kondisi keuangan makro terjaga. ''Pendidikan masyarakat sangat urgen. Jangan sampai muncul gejolak karena salahpengertian. Jangan sampai ada anggapan penyederhanaan nominal ini berarti mengubah nilai barang,'' kata Difi.

Ekspektasi inflasi yang salah juga akan menjadi bola liar yang sulit dikendalikan dan pada akhirnya bisa memicu hiperinflasi. Mungkin dampak psikologis juga harus diperhatikan karena Indonesia akan kehilangan banyak orang yang biasa dipanggil 'jutawan' dan 'miliarder'.

n alwi shahab, subroto, ed: rahmad bh

Jumat, 16 April 2010

Pisau Lipat dan Penerbanganku

Dari banyak penerbanganku, masalah pisau lipat sudah menjadi agenda klasik. Yang menjadi persoalan adalah tidak adanya perlakuan standard. Hanya sesekali pisau lipat di tas ketahuan, tapi kerap kali menguras energi.

Pada banyak kasus ketika pisau lipat ketahuan nyelip di tas, nada-nada tajam dari petugas keamanan bandara akan terdengar. Sepertinya karena pisau lipat yang kadang-kadang kita sudah tidak ingat ada dalam tas - karena tas berikut pisau lipat itu setiap hari menemani pekerjaan di jalanan - kita diperlakukan seperti penjahat yang akan membajak pesawat.

Tapi, penerbanganku dari Denpasar 13 Agustus 2009 memberiku warna beda, untuk persoalan pisau lipat ini.

====

Di Yogyakarta

''Mbak, bawa pisau lipat ya. Harus masuk bagasi. Kalau mbak tidak ada bagasi, bisa dititipkan ke teman yang ada bagasi. Pokoknya harus di bagasi,'' ujar mbak-mbak keamanan bandara Yogyakarta, di penghujung Juni 2009, yang mengundang pertengkaran seru di pintu bandara. Kebetulan, tak hanya aku yang kedapatan bawa pisau lipat multifungsi di tas. Seorang kawan kameramen pun membawanya.

Si mbak yang kayaknya baru lulus pendidikan keamanan dengan nyolot membentak-bentak kami berdua. Pun ketika kami jelaskan bahwa kami sudah hampir boarding, bahwa pisau itu perlengkapan liputan, bahwa semua bagasi sudah masuk pesawat dari tadi, bahwa tripod yang jelas2 dari alumunium lebih berbahaya daripada pisau lipat yang lebih banyak berfungsi sebagai pengungkit daripada sebagai pisau (hanya victorinox, setauku, pisau lipat yang benar2 berfungsi.. hihi.. kalau yang lain, apalagi buatan lokal, gada tajam2nya.. hihi lagi..), di depan mata mereka boleh masuk kabin tanpa ada masalah...

Bayangkan situasinya, belasan reporter dan kameramen dengan tampang kusut setelah dua pekan liputan di lapangan, dipersoalkan pisau lipatnya sementara tripod, kamera, dan perlengkapan lain yang lebih bahaya masuk juga ke kabin tanpa masalah.

Bukannya memberikan solusi, kami diberlakukan bak pesakitan. Sampai dikejar-kejar sampai pesawat. Diteriaki sepanjang ruang tunggu. Baru akhirnya seorang teknisi maskapai penerbangan yang jusru memberikan solusi untuk memasukkan pisau lipat itu ke //security item//, tanpa masuk bagasi. Cuma ngisi selembar dokumen, dan barang bisa diambil di bandara tujuan. ''Kenapa ga dari tadi solusinya ???!!!!''

=====

Ujung Pandang

Pagi-pagi, sendirian, tanpa bagasi seperti kebiasaan kemana pun aku pergi, di awal April 2009. Perlakuan yang sama buruknya dengan Yogyakarta. Tapi aku lolos dengan lagak sok polos menyelinap ke gate bandara.

=====

Jakarta

Masalahnya, belum pernah sekalipun aku dapat masalah pisau lipat di bandara Soekarno Hatta...
Selalu lolos dengan tenang..
Ga pernah terpermalukan...

====

Denpasar

Dan Denpasar memberiku pengalaman menyenangkan. Sekalipun aku ketahuan dan diberhentikan di pemeriksaan pertama - pertama, kawan2.. biasanya baru di pemeriksaan terakhir sebelum ruang tunggu, pisau itu ketahuan atau dipedulikan.. -..

Petang itu, 13 Agustus 2009...dari Denpasar aku harus menumpang penerbangan GA411..

''Maaf, mbak, tolong berhenti dulu sebentar. Bawa pisau lipat ya ?'' tanya mas2 di situ dengan ramah. Nadanya biasa saja tuh. Dia periksa ulang tasku. Ketika ga ketemu pisaunya - hihi, padahal dia sudah buka kantong tas yang ada pisau itu - dia nanya baik2, dimana pisau itu berada.

Ketika sudah ketemu, Bapak2 yang ada di situ - atasannya si mas2 kali ya.. - pun langsung bilang, ''Diantarkan saja ke petugas Garuda, biar masuk security item,'' kata dia dengan tetap ramah, ketika kukatakan aku tak bawa bagasi dan sudah masuk waktu boarding. Maka diantarlah aku sampai ke gate garuda, diuruskan sampai dokumen security item itu beres, bahkan aku disuruhnya tetap antre masuk sementara dia yang ngurus..

=====

Seandainya ada pelayanan standard di semua bandara Indonesia, tak perlu energi keluar sia2 hanya karena masalah pisau lipat..
Toh, ada solusi //security item// semacam itu.
Tinggal disegel, dengan tanda terima, dan pasti bisa diambil sesudahnya..

Tidak semua orang bawa bagasi ketika harus menumpang pesawat terbang.

Bahwa standard keamanan memang harus ditegakkan.
Tapi kalau kemudian penumpang diperlakukan seperti pesakitan, wah, ngajak berkelahi deh.
Apalagi udah capek liputan, masih ngejar deadline di tempat tujuan, eh dibentak2 cuma urusan pisau lipat.
Karena agak konyol kadang2, posisi pisau lipat itu benar2 nyempil di sudut tas. Yang kalau memang mau digunakan, harus membongkar total tas itu.
Ok, itu debatable.
Tapi yang jelas, para petugas yang pekerjaannya berhubungan langsung dengan penumpang atau pelanggan, mestinya punya standard penanganan kasus semacam itu kan..
Bahwa sama2 capeknya, iya lah, namanya kerja..
Tapi ketika memilih bekerja di sektor layanan, ya itu tugas Anda untuk bersikap sebagai 'pelayan'.. Bukan jadi sipir..

Tabik..
=== aku memang juga harus terus latihan sabar sih. tapi kalau aku sudah sabar dan sopan masih aja dibentak-bentak, itu ngajak berkelahi bukan ? hehehe.. ===

Kilasan Cerita Lama

'Anis', kusebut namaku sembari kujabat tangannya. ''Sama namanya,'' itu saja jawabnya tanpa pernah sebutkan nama dia. Sebuah perkenalan yang selalu saja mengundang heran dan pertanyaan, setiap kali kumengenang hari itu.

Pada mulanya kukira dia pegawai perusahaan tempat aku tergopoh-gopoh melamar. Dengan gayanya, dengan penampilannya. Ternyata, haha, dia juga melamar pekerjaan yang sama denganku.

Entah nasib apa yang menyatukan kami dan entah apa maksudnya, dia menjadi hantu hari-hariku selanjutnya. Entah sikapnya yang menjatuhkanku ketika diskusi, entah perasaanku yang meyakini dia akan selalu dipanggil juga setiap kali aku menerima panggilan seleksi lanjutan.

''Aries ya ?'' tanyaku yang dia iyakan dengan tatapan jengkel. Hehehe, aku tertawa dan bilang itu sudah kuduga. Hidupku tak jauh-jauh dari orang-orang berhoroskop itu. Dengan keunikan sikapnya.

Hari-hari dengan jawaban pendek dan sepatah-sepatah, menjadi hari-hariku bersamanya. Walaupun, ketika kudiam saat menjadi sopir pribadinya, meluncur beragam cerita kehidupannya. Belum lagi foto si ini si itu, pacar yang ini yang itu.

Saat kutanyakan kenapa dia menceritakan semua itu padaku yang tak pernah dia masukkan sebagai kategori teman, dia menjawab enteng saja. ''Kamu mau mendengarkan sih.''

Kunikmati hari-hariku dengannya dalam situasi yang tak jauh-jauh dari itu. Entah benar entah bodohku saja, kuanggap semua itu hanya cara dia menempatkanku dalam hidupnya. Kupikir, dengan cara unik itu aku hadir di hatinya. Tidak penting, bukan siapa-siapa, tapi ada.

Sampai entah setan atau justru malaikat yang membisikiku, bahwa dia hanya memanfaatkanku. Entah mengapa pula aku begitu terpancing dan marah. Kukilas balik semua perjalananku dengannya dan kubenarkan pendapat itu.

Kucecar dia dengan marahku. Dengan ketidakterimaanku atas sikapnya. Dan aku menjadi jahat. Lalu aku kehilangannya.

Sejuta cara untuk memanggilnya kembali. Tapi, tak juga ada cara kembali. Bukan lagi marah dan balasan jahat yang kudapat, tapi //absolutely// tidak peduli.

Di satu masa aku pernah gila karenanya. Waras sesaat untuk kembali gila. Tapi semua tetap sama saja. Dia tak lagi ada.

Sekarang, di sini, di satu kafe nyaman yang sepi di seberang satu gereja, aku hanya ingin tertawa mengenang semuanya. Meskipun ada sejuta umpatan yang menyebutku bodoh - karena mengenang dan mengharapkannya - aku tetap percaya dia tetap ada.

Kepercayaan itu terlanjur tertanam dalam. Kupikir hanya jeda yang sekarang dibutuhkannya. Seperti kata Bapaknya, kalau setiap upaya sudah tidak bisa, biarkan kekuatan doa yang mengembalikannya. Yah, aku sampai berakrab-akrab dengan Bapaknya, dalam sesi gila-ku karenanya.

Lalu, apa kabarku sekarang tanpanya ? Untunglah cukup gembira dan baik-baik saja. Dengan teman-teman yang memahamiku. Dengan kawan-kawan yang berbagi suka dan duka, walau tanpa rasa istimewa. Yang selalu ada, bahkan sekedar untuk panggilan ke lantai 13 kompleks pertokoan di kota Jakarta atau di kafe murah meriah di kawasan yang sama.

Di ujung kilas balik kenangan ini, sebaris doa yang dia minta suatu ketika, kembali kupinta. Mungkin ini memang hanya jeda, satu cara untukku tumbuh dewasa. Mungkin suatu ketika, bisa kutatap lagi senyum di matanya. Suatu ketika.

Hujan Salah Musim

Brrrr.. Lagi-lagi hujan salah musim. Membuatku terdampar di sini. Merapatkan jaket, dengan sebatang samsu terselip di bibir dan bertemankan secangkir kopi. Mengusir dingin. Cukup di warung pinggir jalan, berteduh. Dan membiarkan pikiranku melayang, sebebas elang, menapak tilas perjalanan.

''Kenapa sih, kalau menulis selalu tentang dia ? Itu //ga// berdampak buat yang baca, selain mancing simpatik dan penasaran,'' kecam seorang kawan siang tadi tentang note fesbukku. Haha, aku hanya tertawa menanggapinya. ''Itu karena semua orang menganggap tulisanku adalah personal. Padahal itu kan latihanku menulis,'' jawabku seusai reda tawa.

''Tulislah tentang Bu Mega, atau apa lah yang ada gunanya buat publik,'' lanjut kecamnya. Menurut dia, tulisanku tak lari-lari, tapi tidak berarti. Seperti aku di mata si 'kamu' yang membuat orang penasaran itu, rutukku dalam hati.

Crassssshhh... Sial, warung ini tak melindungiku dari tempias air yang melompat dari genangan yang terterjang mobil-mobil mahal. Nasib kaum marjinal. Berteduh pun basah.

Jadi ingat Bu Mega. Apa ya yang dipikirkannya kala hujan salah musim begini ? Mengingatnya, entah mengapa yang terasa sunyi. Selintas teringat kabar Bu Mega sampai menyepi dan menolak menemui orang-orang terdekatnya. Hanya dua putranya, dan satu dua sahabat akrab, yang bisa menyambanginya. Bukan putrinya, suaminya, sekjen-nya, atau siapapun yang selama ini melekat dianggap sebagai ring satu Bu Mega.

Demokrasi ini mungkin seperti hujan salah musim ya, Ibu. Seperti hujan yang seharusnya anugrah, tapi mengundang gerutuan karena salah musim. Demokrasi yang dianggap sebagai berkah pun, menjadi serasa salah musim ketika dimenangkan orang-orang yang salah. Ketika kemenangan hanya angka. Ketika kemenangan didapat melalui rekayasa.

Arrgghhhh.. Kenapa jadi mikir politik ? Siapalah aku ini boleh menghakimi demokrasi. Aku hanya pengelana jalanan bermodal motor tua. Dihapali setiap warung kopi jalanan, yang hanya terbeli secangkir kopi dan sebatang samsu setiap kali aku berada di sana. Pengelana bermodal tiga ribu perak untuk dua kenikmatan tiada tara itu.

''Kemana mak, warung-warung yang biasa di seberang sana ?'' tanyaku ke pemilik warung langgananku, sekedar mengalihkan pikiran. ''Biasa, mau adipura,'' jawab si mami tak acuh. ''Apa hubungannya mak ?'' tanyaku lagi.

Bertuturlah si mami. Setiap kali penilaian adipura digelar, maka petugas kecamatan akan mengedarkan surat kepada para pedagang yang berjajar di sisi selatan jakarta ini. Isinya, meminta mereka menutup warungnya untuk sementara. ''Sampai penilaian selesai saja,'' kata si mami.

Alamak, apa pula ini. Jadi semua gelar kebersihan itu hanya pura-pura ? Bersih tertata hanya ketika akan dinilai untuk adipura ? Bah.. Ampas kopi yang tersesap mulutku terasa berlipat kali pahitnya terasa. Kenapa tak disediakan saja satu lokasi yang memang tersedia untuk mereka, para pedagang kaki lima ini ?

Toh, mereka juga tak gratis di sini. Di depan mataku, aku tahu mereka membayar retribusi ke petugas kecamatan. Membayar iuran listrik dan air setiap bulan. Biaya keamanan pun tak ketinggalan.

Artinya, mereka bukan tidak mau membayar untuk berdagang. Mereka hanya tak punya tempat tanpa tergusur komplek pertokoan yang menyisipkan komisi di setiap persetujuan izin pembangunannya. Mereka hanya tak bisa mengirimkan parsel ataupun kartu diskon laiknya pertokoan-pertokoan mahal itu kepada para pejabat yang katanya aparat negara.

Aduh, kenapa aku jadi berpikir serius lagi ? Brrrrrr.. Hawa dingin ini menyentakku. Kemana aku akan melanjutkan langkah kaki saja aku tak tahu. Kenapa pula aku memikirkan negara yang seharusnya kaya ini ? Ahhh.. Asap pun tak lagi mengepul dari bibir ataupun sela jariku. Di tengah rutukan adipuraku, sebatang samsu itu sudah mati setelah melewati garis kuning pembatas isapan bibir.

Ah, hujan salah musim. Melemparkan otakku pada pengelanaan yang lebih panjang dari jalan roda motorku. Melayangkan gelisahku lebih tinggi dari kepak sayap elang. Hujan salah musim. Bersama dinginmu, otakku membeku.


>>> 2 November 2009, dedicated untuk seorang kawan yang mengkritikku tajam.. (notes : beberapa detil adalah fiksi.. tapi data insyaAllah valid.. hehe.. silahkan dinilai sendiri ajah.. boleh dicela2.. biar aku belajar juga.. haha.. thx anyway ..)

BERAKHIR SUDAH

'I hate you,' kata dia.
Terucap sudah kalimat itu untukku. Cukup sudah.

'Kau pikir cukup dengan kamu menjadi baik satu bulan ?' tanya dia.
Keluar juga kalimat itu untukku. Penghujatan.

'Dengan semua kejadian selama ini, aku sudah tak punya respek sedikit pun padamu,' tegas dia.
Terungkap juga fakta itu padaku. Penafian.

Dan 'Januari' pada akhirnya memang akan menjadi lagu kebangsaan.
Juga 'Tapi Bukan Aku'.

Haha..
Tertawa pun hambar terasa.

Kenyataan yang sudah diduga.
Tapi tetap saja menyakitkan ketika diungkapkan seketika.

Bantingan buku.
Teriakan.
Cacian.
Celaan.
Penafian.
Plus wajah penuh benci.

Cukup sudah.

Entah penghiburan apa yang kali ini bisa menghentikan 'sakit'-ku.
Karena kamu-lah selama ini penghiburanku.
Harapanku untuk bisa menjadi sedikit lebih baik dari hari-hari laluku.
Tapi ternyata semua hanya ditangkap sebagai buruk dan buruk.
Tak pernah ada maaf sejati untukku.
Tak pernah ada hati yang disediakan untukku.
Aku hanya bermimpi dan hidup di dalam itu.

Cukup sudah.

==

Untuk kalian yang belum pernah berbuat kesalahan fatal, jangan pernah membuatnya.
Karena kesalahan itu akan mengikutimu seperti hantu, di setiap langkahmu.
Perbaikan dirimu tetap tak menghapus kesalahan itu, tak juga membuka maaf untukmu.
Waktu ? Mungkin cuma itu, tapi aku tak lagi membiarkan hatiku percaya waktu memberiku kesempatan itu.

==

Maaf kalau kali ini aku membiarkan diriku terpuruk dalam nada-nada negatif.
Tentu, aku bukan penganut aliran bunuh diri.
Tak juga hendak 'lari'.
Aku hanya sedang butuh sunyi untuk menata hati dan diri.

===

>> somewhere out there ... 3 Februari 2010 ...

Kangen Menulis Saja..

Ada beberapa pertanyaan dasar yang sesekali mengusik rutinitas pekerjaanku. Setidaknya ada dua pertanyaan. Satu, apakah aku benar-benar bisa menulis ? Dua, apakah aku benar-benar wartawan ?

Kedua pertanyaan itu jawabannya 'iya', tapi masih diikuti tanda baca koma.

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya 'iya', kalau hanya dilihat bahwa ada kok tulisanku yang dimuat di tempatku bekerja, bahkan sesekali dengan editan yang tak substantif.

Untk pertanyaan kedua juga 'iya' kalau hanya dilihat bahwa aku punya ID-card (*yang menurutku jelek sekali dengan tulisan PERS berhuruf kapital berlatar belakang warna merah.. hehehehe..*), setiap hari mengejar kabar-kabur dari penjuru mata angin mengatasnamakan liputan lalu menuliskannya dengan harapan jadi berita, dan setiap bulan menerima gaji beserta slip-nya dari salah satu perusahaan media massa.

===

Kenapa aku gelisah karena dua pertanyaan itu ?

Pertama, aku merasa tulisanku biasa-biasa saja. Tak inspiratif. Tak berbingkai. Tak juga 'seru' atau 'menggelitik'. Datar saja. Barangkali malah membosankan.

Dua, tulisanku tak mengubah realita, tak membongkar hal-hal yang tak kasat mata. Reportase pun mungkin masih terlalu mewah untuk mewakili kata 'laporan'. Karena detil kerap tak punya tempat juga untuk disampaikan dalam rangkaian kata.

Tiga, verifikasi semakin hari semakin jauh saja dari dunia pekerjaanku ini. Padahal kata mereka yang belajar komunikasi apalagi jurnalistik, roh pekerjaan ini adalah 'verifikasi'.

Empat, apalagi kalau mau kembali ke idealisme awal sampai jurnalisme dimahkotai gelar 'pilar demokrasi keempat', semakin pusing kepalaku melihat duniaku ini semakin dekat dengan pertunjukan drama permukaan. Sektoral, individual, tak mengusung sesuatu yang benar-benar berkorelasi dengan rakyat.

==

Jadi miris sendiri, dengan segala diskusi panas tentang negara dan kehidupan bernegara.

Apa sih definisi negara yg paling dasar ? Komunitas orang yang sepakat atas sebuah konsep, sehingga bergabung untuk hidup bersama di satu wilayah, dan meminta pengakuan dari komunitas lain di luar dirinya. Kira-kira begitulah gambaran gampang dari pikiran para pendiri negara itu.

Lalu apa yang terpenting dari negara yang dasar pembentukannya begitu itu ? Namanya kumpulan orang alias manusia, pasti harus hidup dong. Dan karenanya 'makan' adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Bahasa muluknya adalah 'ekonomi'. Yah, kalau punya uang lebih karena kemakmuran ekonomi, bisa lah buat sekolah anak-anak, beli rumah bagusan dikit, mobil mentereng, atau apalah.

Karena dituntut bisa bertahan hidup, dengan beragam jenis orang dan pikiran di dalam komunitas itu sendiri dan juga bertetangga dengan komunitas lain, muncullah 'politik'. Meskipun kesepakatan sikap untuk membentuk negara juga masuk definisi politik, tapi menurutku pada dasarnya politik adalah urutan kedua setelah 'urusan perut' alias ekonomi, sesudah negara itu terbentuk.

Menurutku lagi, politik adalah konsep sistem yang dipilih untuk negara itu bertahan, termasuk untuk bisa memenuhi tuntutan perut itu. Susah sebenarnya mana yang duluan, politik atau ekonomi, dalam membentuk negara. Nyaris sepaket, dan timbal balik. Harus yakin hidup juga kan kalau mau memisahkan diri jadi negara sendiri. Kecuali kalau konyol saja. *ups..*

Ke dalam, politik yang dipilih akan menentukan 'sistem ekonomi' apa yang akan membuat sumber daya negara berdaya guna untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota negara ini. Kalau pilihannya lebih dari satu, keterkaitan sistem politik dan sistem ekonomi, akan lebih kait-mengait lagi. Lagi-lagi, harusnya ya..

Ke luar, politik juga yang menentukan apakah kita akan berkawan atau bermusuhan dengan negara mana, yang intinya akan mempengaruhi ketahanan hidup kita, baik dari sisi pasokan maupun dari sasaran jualan dan bersekutu yang ujungnya buat ongkos hidup itu tadi.

Ketika pilihan politik sudah dipakai, maka 'hukum' melengkapinya dengan perangkat aturan. Inilah garis pembatas lapangan permainan. Kalau masih sepakat jadi warga negara X dengan sistem politiknya dan numpang hidup di situ (*terpaksa ataupun enggak..*), ya harus memperhatikan dan patuh pada garis batas ini.

Tentyu, baik ekonomi, politik, maupun hukum, sifatnya relatif. Nah, baliknya ke politik. (*Apa politik harus jadi faktor nomor satu bernegara ya ?*).

Keberpihakan ekonomi seperti bagaimana yang dikembangkan Pemerintah, sistem politik apa, dan aturan macam mana yang diberlakukan, tergantung pada kemampuan 'bersiasah' para pemimpin sub-komunitas di dalam komunitas negara itu untuk bisa menjadi pengendali komunitas.

Ekonomi seperti apa, tergantung yang memerintah negara itu siapa. Negara makmur tapi ngutang mulu, atau negara ga punya sumber daya asli tapi kaya raya, tergantung pada siapa pemimpin dan-atau aliran politik pemimpin itu. (*Yup, sudah jarang individual orang memiliki kekuatan politik yang besar*).

Apalagi aturan hukumnya, pasti ngikut sistem politik dan tuntutan ekonomi. Kekuasaan -di eksekutif maupun jadi anggota dewan yang terhormat- itu menentukan nasib banyak orang. Sayang sering dikejar untuk rasa 'wah'-nya doang ya.. (*tyuh, politik penting juga ya..*)

Kalau melihat gambaran super duper disederhanakan itu, mestinya ketiga domain besar hidup bernegara tak bisa dikotak-kotakkan. Mestinya ya.

Mestinya ketika kita masih sepakat untuk menjadi bagian dan hidup - alias makan - di negara ini, sepakat dengan sistem politik yang berjalan, dan sepakat dengan aturan hukum yang berlaku sekarang, semua persoalan harus direntang sejauh itu sekalipun hanya bicara soal yang katanya sederhana.

Kenyataannya, pengkotak-kotakan ketiga hal itu semakin kental, meskipun tengah membahas masalah yang sama. Seolah-olah satu persoalan itu bisa dibelah, tergantung siapa yang sedang membicarakan atau menanganinya. Apakah itu orang ekonomi, politik, atau hukum. Seolah-olah benar dan salah itu menyesuaikan konteks.

==

Nah, kalau wartawan yang menjadikan pena -ups, sekarang komputer atau beriberi- sebagai senjata pamungkasnya adalah pilar keempat demokrasi (sistem politik yang sedang tren dengan tiga pilar lain adalah eksekutif, legislatif, dan yudikatif..) maka mestinya verifikasi tak akan pernah lekang dari kesadaran.

Sekalipun, bisa jadi kesadaran verifikasi itu kerap kali cuma jadi alarm kecil yang berdenging di bawah sadar, ketika menemukan fakta dari salah satu sektor bidang liputan. Toh, industri media memang tak menyediakan ruang sempurna untuk fakta sesungguhnya.

Bukannya malah ikut sibuk ribut dan lupa 'menjaga jarak' dengan subjek dan objek liputan. Hanyut dalam irama permainan, sehingga lengah dengan latar belakang di balik peristiwa.

===

Hahaha.. Sepertinya aku lupa makan lagi, jadi menulis hal-hal ribed begini..

Sebaiknya segera menelepon si jangkung (*jadi ketahuan deh, aku di mana.. bagi yang tahu saja..). Segera memesan semangkok mie goreng dengan dua telor mata sapi, segelas kecil dobel milo, sebotol aqua, dan bekerja kembali..

Kalaupun aku bisa bertahan dalam kegelisahan ini, semata karena kuniatkan hidupku ini untuk terus belajar. Selangkah demi selangkah.. Menatap seluruh realita.. Jatuh bangun sih.. Dijalani saja seni dan pernak-perniknya..

Kupertanyakan selalu ke diri sendiri dua hal saja. Kapasitas dan integritas. Jawabanku sendiri ya itu tadi, tetap merasa belum tahu apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Terlalu banyak waktu masih tersia-sia. Bodoh banget terus rasanya. Belum berguna juga jadi manusia. Orang lain selalu membuatku terpesona dengan sikap dan karyanya. Kok pada bisa begitu ya ? Kok bisa hebat-hebat ya ?

Karenanya untukku introspeksi adalah mutlak. Kadang kebablasan menyalahkan diri sendiri dan menghukum diri sendiri seberat mungkin. Lalu, mengasah kepekaan. Dan, tak mematikan solidaritas. Karena sendiri hanya berarti sunyi dan tak berarti, walaupun sesekali bermakna tenang dan damai.

Tabik..
31 Maret 2010

Rabu, 31 Maret 2010

Kangen Menulis Saja..

Ada beberapa pertanyaan dasar yang sesekali mengusik rutinitas pekerjaanku. Setidaknya ada dua pertanyaan. Satu, apakah aku benar-benar bisa menulis ? Dua, apakah aku benar-benar wartawan ?

Kedua pertanyaan itu jawabannya 'iya', tapi masih diikuti tanda baca koma.

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya 'iya', kalau hanya dilihat bahwa ada kok tulisanku yang dimuat di tempatku bekerja, bahkan sesekali dengan editan yang tak substantif.

Untk pertanyaan kedua juga 'iya' kalau hanya dilihat bahwa aku punya ID-card (*yang menurutku jelek sekali dengan tulisan PERS berhuruf kapital berlatar belakang warna merah.. hehehehe..*), setiap hari mengejar kabar-kabur dari penjuru mata angin mengatasnamakan liputan lalu menuliskannya dengan harapan jadi berita, dan setiap bulan menerima gaji beserta slip-nya dari salah satu perusahaan media massa.

===

Kenapa aku gelisah karena dua pertanyaan itu ?

Pertama, aku merasa tulisanku biasa-biasa saja. Tak inspiratif. Tak berbingkai. Tak juga 'seru' atau 'menggelitik'. Datar saja. Barangkali malah membosankan.

Dua, tulisanku tak mengubah realita, tak membongkar hal-hal yang tak kasat mata. Reportase pun mungkin masih terlalu mewah untuk mewakili kata 'laporan'. Karena detil kerap tak punya tempat juga untuk disampaikan dalam rangkaian kata.

Tiga, verifikasi semakin hari semakin jauh saja dari dunia pekerjaanku ini. Padahal kata mereka yang belajar komunikasi apalagi jurnalistik, roh pekerjaan ini adalah 'verifikasi'.

Empat, apalagi kalau mau kembali ke idealisme awal sampai jurnalisme dimahkotai gelar 'pilar demokrasi keempat', semakin pusing kepalaku melihat duniaku ini semakin dekat dengan pertunjukan drama permukaan. Sektoral, individual, tak mengusung sesuatu yang benar-benar berkorelasi dengan rakyat.

==

Jadi miris sendiri, dengan segala diskusi panas tentang negara dan kehidupan bernegara.

Apa sih definisi negara yg paling dasar ? Komunitas orang yang sepakat atas sebuah konsep, sehingga bergabung untuk hidup bersama di satu wilayah, dan meminta pengakuan dari komunitas lain di luar dirinya. Kira-kira begitulah gambaran gampang dari pikiran para pendiri negara itu.

Lalu apa yang terpenting dari negara yang dasar pembentukannya begitu itu ? Namanya kumpulan orang alias manusia, pasti harus hidup dong. Dan karenanya 'makan' adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Bahasa muluknya adalah 'ekonomi'. Yah, kalau punya uang lebih karena kemakmuran ekonomi, bisa lah buat sekolah anak-anak, beli rumah bagusan dikit, mobil mentereng, atau apalah.

Karena dituntut bisa bertahan hidup, dengan beragam jenis orang dan pikiran di dalam komunitas itu sendiri dan juga bertetangga dengan komunitas lain, muncullah 'politik'. Meskipun kesepakatan sikap untuk membentuk negara juga masuk definisi politik, tapi menurutku pada dasarnya politik adalah urutan kedua setelah 'urusan perut' alias ekonomi, sesudah negara itu terbentuk.

Menurutku lagi, politik adalah konsep sistem yang dipilih untuk negara itu bertahan, termasuk untuk bisa memenuhi tuntutan perut itu. Susah sebenarnya mana yang duluan, politik atau ekonomi, dalam membentuk negara. Nyaris sepaket, dan timbal balik. Harus yakin hidup juga kan kalau mau memisahkan diri jadi negara sendiri. Kecuali kalau konyol saja. *ups..*

Ke dalam, politik yang dipilih akan menentukan 'sistem ekonomi' apa yang akan membuat sumber daya negara berdaya guna untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota negara ini. Kalau pilihannya lebih dari satu, keterkaitan sistem politik dan sistem ekonomi, akan lebih kait-mengait lagi. Lagi-lagi, harusnya ya..

Ke luar, politik juga yang menentukan apakah kita akan berkawan atau bermusuhan dengan negara mana, yang intinya akan mempengaruhi ketahanan hidup kita, baik dari sisi pasokan maupun dari sasaran jualan dan bersekutu yang ujungnya buat ongkos hidup itu tadi.

Ketika pilihan politik sudah dipakai, maka 'hukum' melengkapinya dengan perangkat aturan. Inilah garis pembatas lapangan permainan. Kalau masih sepakat jadi warga negara X dengan sistem politiknya dan numpang hidup di situ (*terpaksa ataupun enggak..*), ya harus memperhatikan dan patuh pada garis batas ini.

Tentyu, baik ekonomi, politik, maupun hukum, sifatnya relatif. Nah, baliknya ke politik. (*Apa politik harus jadi faktor nomor satu bernegara ya ?*).

Keberpihakan ekonomi seperti bagaimana yang dikembangkan Pemerintah, sistem politik apa, dan aturan macam mana yang diberlakukan, tergantung pada kemampuan 'bersiasah' para pemimpin sub-komunitas di dalam komunitas negara itu untuk bisa menjadi pengendali komunitas.

Ekonomi seperti apa, tergantung yang memerintah negara itu siapa. Negara makmur tapi ngutang mulu, atau negara ga punya sumber daya asli tapi kaya raya, tergantung pada siapa pemimpin dan-atau aliran politik pemimpin itu. (*Yup, sudah jarang individual orang memiliki kekuatan politik yang besar*).

Apalagi aturan hukumnya, pasti ngikut sistem politik dan tuntutan ekonomi. Kekuasaan -di eksekutif maupun jadi anggota dewan yang terhormat- itu menentukan nasib banyak orang. Sayang sering dikejar untuk rasa 'wah'-nya doang ya.. (*tyuh, politik penting juga ya..*)

Kalau melihat gambaran super duper disederhanakan itu, mestinya ketiga domain besar hidup bernegara tak bisa dikotak-kotakkan. Mestinya ya.

Mestinya ketika kita masih sepakat untuk menjadi bagian dan hidup - alias makan - di negara ini, sepakat dengan sistem politik yang berjalan, dan sepakat dengan aturan hukum yang berlaku sekarang, semua persoalan harus direntang sejauh itu sekalipun hanya bicara soal yang katanya sederhana.

Kenyataannya, pengkotak-kotakan ketiga hal itu semakin kental, meskipun tengah membahas masalah yang sama. Seolah-olah satu persoalan itu bisa dibelah, tergantung siapa yang sedang membicarakan atau menanganinya. Apakah itu orang ekonomi, politik, atau hukum. Seolah-olah benar dan salah itu menyesuaikan konteks.

==

Nah, kalau wartawan yang menjadikan pena -ups, sekarang komputer atau beriberi- sebagai senjata pamungkasnya adalah pilar keempat demokrasi (sistem politik yang sedang tren dengan tiga pilar lain adalah eksekutif, legislatif, dan yudikatif..) maka mestinya verifikasi tak akan pernah lekang dari kesadaran.

Sekalipun, bisa jadi kesadaran verifikasi itu kerap kali cuma jadi alarm kecil yang berdenging di bawah sadar, ketika menemukan fakta dari salah satu sektor bidang liputan. Toh, industri media memang tak menyediakan ruang sempurna untuk fakta sesungguhnya.

Bukannya malah ikut sibuk ribut dan lupa 'menjaga jarak' dengan subjek dan objek liputan. Hanyut dalam irama permainan, sehingga lengah dengan latar belakang di balik peristiwa.

===

Hahaha.. Sepertinya aku lupa makan lagi, jadi menulis hal-hal ribed begini..

Sebaiknya segera menelepon si jangkung (*jadi ketahuan deh, aku di mana.. bagi yang tahu saja..). Segera memesan semangkok mie goreng dengan dua telor mata sapi, segelas kecil dobel milo, sebotol aqua, dan bekerja kembali..

Kalaupun aku bisa bertahan dalam kegelisahan ini, semata karena kuniatkan hidupku ini untuk terus belajar. Selangkah demi selangkah.. Menatap seluruh realita.. Jatuh bangun sih.. Dijalani saja seni dan pernak-perniknya..

Kupertanyakan selalu ke diri sendiri dua hal saja. Kapasitas dan integritas. Jawabanku sendiri ya itu tadi, tetap merasa belum tahu apa-apa dan belum berbuat apa-apa. Terlalu banyak waktu masih tersia-sia. Bodoh banget terus rasanya. Belum berguna juga jadi manusia. Orang lain selalu membuatku terpesona dengan sikap dan karyanya. Kok pada bisa begitu ya ? Kok bisa hebat-hebat ya ?

Karenanya untukku introspeksi adalah mutlak. Kadang kebablasan menyalahkan diri sendiri dan menghukum diri sendiri seberat mungkin. Lalu, mengasah kepekaan. Dan, tak mematikan solidaritas. Karena sendiri hanya berarti sunyi dan tak berarti, walaupun sesekali bermakna tenang dan damai.

Tabik..
31 Maret 2010

Sabtu, 02 Januari 2010

The Second You Sleep

ini lirik dari lagu yg kujadikan judul tulisanku pula.. nanti sesudah itu, kututurkan satu kisahku, knp mengutip lirik ini..

You close your eyes
And leave me naked by your side
You close the door so I can’t see
The love you keep inside
The love you keep for me

It fills me up
It feels like living in a dream
It fills me up so I can’t see
The love you keep inside
The love you keep for me

I stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
I wish by God you’d stay

I stay awake
I stay awake and watch you breathe
I stay awake and watch you fly
Away into the night
Escaping through a dream

I stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
It gives me time to stay
To watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you’ll be gone
I wish by God you’d stay

====

terlepas aku ga pernah 'naked' by your side atau di manapun di sekitarmu (kecuali di kamar mandi di sebelah kamarmu ya.. hihi..), tetap aja lagu ini menyayat-nyayat.. apakah memang kamu pernah menyayangiku, aku juga ga pernah tahu.. karena kamu memang tak pernah membiarkanku tahu.. atau kalaupun aku pernah merasa tahu, di akhir perbincangan kita kau menekankan bahwa aku tidak pernah ada artinya buatmu dan katamu, 'just leave me alone, stay away from me'.

kamu hadir saat aku jatuh dan hancur lebur. tak pernah ramah padaku, tapi aku merasa ada benang merah di antara kita. tanpa kata, aku merasa kita saling merasa ada. tapi kini, terpikir olehku semua itu hanya halusinasiku saja. pantulan dari harapan dan keinginanku berkawan denganmu. cerminan dari pencarianku akan kehadiran teman dalam hidupku.

ketika akhirnya semua berlalu dalam permusuhan sengit, kau pun menggugat diksi-ku tentang kehilanganmu. bagimu, kehilangan berarti pernah memiliki. sementara kau menepis mentah2 aku pernah memilikimu sebagai apapun. teman pun bukan.

satu ketika kau pernah berkata, bahwa aku bukanlah temanmu, tak pernah menjadi temanmu. kalaupun pernah di satu masa kau bercerita banyak hal yang bahkan tak kau ceritakan ke teman2mu, maka alasannya menurutmu hanyalah, ''kamu mau dengerin sih''. tak lebih tak kurang. tanpa makna dan bukan sesuatu yang punya arti.

kini, seperti bintang di langit, biarkan saja aku memandangimu dari kejauhan. atau biarkan sesaat kau muncul di kenangan. kucoba kenang hal2 yg indah saja. kucoba ingat hal2 yg membuatku berarti dalam hidupmu. aku tahu ini semua semu dan palsu, tapi inilah caraku bertahan hidup tanpa harus hancur ketika waktu memastikan kau berlalu dari hidupku.

di manapun kamu berada, tersenyumlah. mungkin itu jalanmu. kalaupun kau merasa itu salah dan butuh tempat bersandar sejenak, kau tahu kamu selalu bisa menemukanku. tabik..

*yuhuuu.. belajar menulis rada keren.. blog.. kata orang telat, tapi biarin aja.. lagi sempat ini.. hihi..

2 januari 2010, kamar sempitku, sesaat mengenangmu